Halaman Facebook
Banner
Divisi Data LitbangPGRINISNKementerian PendidikanPemda Karanganyar
Statistik

Total Hits : 72448
Pengunjung : 15575
Hari ini : 3
Hits hari ini : 31
Member Online : 1
IP : 54.82.112.193
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

mailrist_ku

Tanggal : 02/18/2016, 09:27:00, dibaca 301 kali.

SOLO – Punya kenangan di Stasiun Balapan? Ya, sebelum maskapai penerbangan begitu marak bahkan sampai perang harga, kereta api adalah moda transportasi yang cukup mewah untuk bepergian jarak jauh. Stasiun pun menjadi tempat melepas keberangkatan atau menunggu kedatangan kerabat, saudara dan kekasih. Kenangan pun tertinggal di stasiun.

Stasiun Balapan sendiri menyimpan banyak kenangan dari sejarah dan perkembangannya sejak masa pendudukan kolonial Belanda. Kenapa bisa diberi nama Balapan? Ternyata ada kisah dibalik nama tersebut yang mungkin saja belum kamu ketahui.

Dalam tulisan sejarawan Kota SoloHeri Priyatmoko yang dimuat suaramerdeka.com,  pada tanggal 24 April 2015, Stasiun Balapan sebagai stasiun kereta api pertama di Surakarta dibangun pada 1866 semasa Mangkunegara IV (1853-1881). Sebelum berdiri stasiun, kawasan itu dulunya dipakai tempat balapan atau pacuan kuda. Keterangan tersebut menurut alumnus Pascasarjana Sejarah, FIB, UGMini termuat dalam arsip Wonten Kagungan Dalem Cethok yang tersimpan di perpustakaan Reksa Pustaka  Pura Mangkunegaran.Heri menjelaskan periode 1866 dengan penyebutan “dalem cethok” sangat dimungkinkan merupakan tahun peletakan batu pertama.Sedangkan tahun 1870yang diketahui publik sebagai tahun dibangunnya stasiun, sebenarnya merupakan tahun selesainya pembangunan stasiun.

Dari laman heritage.kereta-api.co.idditerangkan bahwa pembangunan Stasiun Solo Balapan oleh perusahaan kereta api Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS)pada tahap pertama adalah pembangunan stasiun bagian utara. Sementara bangunan stasiun bagian selatan dirancang oleh Herman Thomas Karsten, seorang arsitek kenamaan beraliran Indische, pada tahun 1927.

Setelah stasiun iniaktif, menurut Heri Surakarta pernah mendapat julukan “Solo Jantung Pulau Jawa”karena rute penumpang dari Batavia, Surabaya, Yogyakarta dan Semarang harus berhenti dulu di Stasiun Balapan.

 

Foto : wikimedia.org, heritage.kereta-api.co.id

Teks : Sinta Darmastri(berbagai sumber)

Editor : Yudhi Hartomo



Kembali ke Atas


Berita Lainnya :
 Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas